Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Genggaman yang terlepas...

Sama saja seperti kemarin Duduk berdua menikmati senja dengan obrolan yang entah tak pernah kehabisan topik Raut muka dengan berbagai ekspresi diselingi tawa renyah yang selalu jadi favoritku Ya semua tentangmu jadi favoritku sejak kita memutuskan bersama Masih sama seperti semalam Menghabiskan malam berdua dengan hal yang kita sepakati berdua Bukan karna paksaan atau rasa penasaran layaknya menjajal mainan baru Hanya karna bentuk rindu yang tak kunjung habis apalagi terlintas bosan Rasanya tidak akan berubah Kamu yang bingung mencariku atau aku yang marah tak mendapatimu Bertemu jadi hal yang candu meski hanya sekedar peluk yang memburu Mata sayumu, lengkung senyummu, lesung pipit milikmu yang semua kala itu milikku Sayangnya ternyata berlalu Memilih pergi tanpa aba - aba untukmu supaya bersiap Rasanya ada sebagian diriku yang jelas - jelas kukhianati Nyatanya saat ini aku hanya bisa memandangi bekas - bekasmu Bekas genggamanmu yang kulepas

Lama takkan sama...

Bau jalan raya yang sama setiap sorenya Kemacetan yang mau tidak mau harus dinikmati setiap pulang kerja Kendaraan yang saling berlomba untuk sampai ditempat tujuan masing - masing Lalu lalang manusia dengan kepentingannya sore ini Semua masih sama dengan segala hiruk pikuknya Tawa sore ini pun masih sama seperti kemarin Bahasan - bahasan tentang pasangan masing - masing Topik yang takkan habis diulas meski mungkin sudah berganti pasangan Sesapan kopi kental dan pahit dari cangkir keramik kecil Kepulan asap dari sebatang rokok yang sengaja dihisap lambat dan dalam Ada rasa manis bercampur getir yang menyelinap menimbulkan tanya Apakah rindu yang tak berbalas seperti ini rasanya Memejamkan mata dan kembali ke memori kala itu sudah jadi hobi tersendiri Mengingat segalanya sendiri dan tersenyum meski tahu itu sudah berlalu cukup lama Hangat rasanya membayangkan pelukan besar dan erat sepulang kerja Kecupan singkat di kening dan pelukan lama yang takkan pernah kembali N...

Kala itu...

Waktu menjadi kendali atas dua pribadi yang berusaha bersama Tatkala memungkiri kenyataan yang ada alih - alih menjadi pembenaran atas segalanya Ketika semesta tak berpihak pada keadaan ini Dan sesamanya menghendaki hal yang hanya menguntungkan masing - masing pihak Segala penghakiman dunia seakan jatuh menimpa salah satu pihak saja Tidak ada pintu untuk melarikan diri bahkan jendela sekedar untuk bernafas Bahagia yang dirasakan berdua nyatanya berujung kengerian yang ditanggung seorang saja Nurani atau tirani yang pura - pura mati memilih menyelamatkan diri sendiri Saat yang dipuja seharusnya bersedia memasang badan untuk berjuang bersama Nyatanya hanya seonggok daging yang memilih peran menjadi mayat hidup Karena memang kala itu rasa tak sebegitunya Yang diperjuangkan pun tak seberharga itu

Idealis yang mulai Terkikis

Note for myself Perempuan yg baik tidak akan merusak Perempuan yg baik tidak akan mengambil yg bukan miliknya Perempuan yg baik tidak akan menyakiti fisik & psikis perempuan lain Perempuan yg baik tahu apa yg baik & yg buruk Perempuan yg baik tidak akan melakukan hal yg tidak pantas secara moral & agama Perempuan yg baik di mata Tuhan tahu bahwa segalanya akan indah pada waktuNya Once again, this is note for myself