Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Seadanya...

Jika diluaran banyak wanita dengan sampul cantik Dibalut dengan kelemah lembutan yang menghanyutkan Dilengkapi balutan mulut manis yang memabukkan Sayangnya perempuan sepertiku tak memiliki itu semua Jika yang diidam-idamkan sosok putri negeri dongeng Anggun dengan segala yang lekat padanya Sempurna di mata para lelaki yang melihatnya Apalah perempuan sepertiku yang hanya bisa memandangi saja Dalam hati hanya bisa bergumam Yang kumiliki hanya hati yang penuh cinta Yang bisa kuberi hanya setia tanpa batas Yang bisa kutunjukkan hanya kasih sayang yang takkan habis Hanya bisa mengelus dada yang sesak Maaf bila aku tak semenarik itu Maaf bila aku tak membuatmu bangga bersamaku Maaf bila aku hanya bisa seadanya aku Meski tak pernah seadanya aku untuk mencintai & mengasihimu dengan segenap hatiku 💔

Jika menurutmu sama

Semua sudah berbeda jika menurutmu sama Ini bukan tentang 60:40 seperti isi hatimu Setahuku Tuhan tidak menciptakan hati yang bercabang Dia menyarankan berbagi kasih bukan dibagi - bagi beralasan kasih Semua sudah berubah jika menurutmu sama Aku hanya berharap menemukan dirimu yang dulu Yang cukup dengan kita bukan dia atau siapapun Hatinya tak terbagi selain Tuhan dan orangtua Jika menurutmu sama sebenarnya tak lagi sama Hanya saja kamu tak berminat untuk merasakannya Hatimu terlalu keras untuk airmata yang mengalir di setiap doa Pendirianmu terlalu kokoh untuk permohonan seorang pengemis sepertiku Jika menurutmu sama sebenarnya hatiku hancur menantimu Kesekian kalinya aku menguatkan diri menunggumu Jutaan doa dengan isi yang tak jauh berbeda tentangmu Memghibur diri sendiri bahwa kelak aku lah rumahmu Jika menurutmu sama, hatiku memang masih sama Mencintaimu dalam diam, menyimpanmu dalam harap Menantimu siang malam, bahwa ini akan berakhir sekembalimu

Asa yang menguap

Hari berganti seperti tak ada yang terjadi Perlahan memaksa menghibur diri sendiri Waktu tak kunjung berpihak pada hati Ya, berjalan namun tak menunjukkan jati diri Bukannya tidak tahu berterima kasih Atau sengaja tidak berkaca siapa diri ini Menanti dengan banyak doa lirih Harap cemasku hanya tentang yang tak kunjung kembali Masih menyimpan semua tentangmu Menutup rapat takut hilang karena jemu Semuanya masih sama tersimpan untukmu Beberapa bertambah sejak pergimu Semoga berkelanamu tak lama lagi Semoga doamu dan doaku dipertemukanNya Semoga langkah dan usaha kita semakin mendekat Dan semoga asaku tentang kita masih kuat

Sekali saja...

Pernah terpikir ingin sangat egois dan tidak perduli asal hati senang Sangat ingin mengutamakan diri sendiri lalu menutup mata dan telinga asal bahagia Terbesit ingin sekali mencari dan mempertahankan apa yang di mau dengan bebas Andai bisa sekali saja... Apakah akan selalu ada pembenci yang mengincar kebahagiaan kita Apakah pasti ada celah untuk orang menghancurkan bahagia kita Apakah tidak bisa menikmati bahagia itu tanpa para pengganggu Andai bisa sekali saja... Ketika Tuhan mengajarkan kasih namun nyatanya dunia menimbulkan benci Saat Tuhan selalu mengingatkan tentang memaafkan namun kenyataan menggiring dendam Dan Tuhan terus mengisyaratkan untuk selalu menabur tapi yang terjadi dirusak seketika Andai bisa sekali saja... Tidakkah lebih lega jika bahagia dengan hidup masing - masing Tidakkah menyenangkan melihat orang lain menikmati bahagianya Tidakkah menjadi pembawa damai itu lebih terberkati hidupnya Andai bisa sekali saja... Jangan mengambil yang bukan milik...

Kita yang menjadi kau dan aku

Pengap rasanya ruang di hatiku Seperti tak ada udara atau cahaya matahari yang sudi merangsek masuk Seharusnya mereka lebih berusaha supaya aku bisa bernapas Ya kehilanganmu seperti ini rasanya Ini yang kutakutkan dari semua mimpi buruk yang pernah ada Mimpi kehilanganmu dan tak kembali Tumpukan benci dan dendam yang terbayar lunas oleh perpisahan Inikah yang benar - benar kau ingini selama ini Aku hanya berani menulismu disini ketika tak ada yang tahu siapa dirimu Biar dunia yang mengatakan pada mereka siapa aslimu Tapi di mataku kau tetap bayi besarku yang harus kujaga setiap waktu Meski mungkin sekarang sudah tidak perlu lagi kulakukan Berkelanalah sejauh kakimu melangkah pergi Bebaskan hatimu seluas pikiranmu tentang dunia Merdekakan pikiranmu tanpa batas yang harus mengikatnya Senandungkan bahagiamu atas lepasmu Jangan segan kembali dan menetap jika sudah lelah Aku masih disini menunggu keajaiban atas kau dan aku Semoga Tuhan masih sudi mendengar doaku tentan...

Berhadapan sesal

Memang serakah, tidak mau dibagi dalam bentuk apapun Hidup memang harus memilih tapi sepertinya tidak untuk itu Jika jiwa masih didepan mata namun raga telah berpindah, menurutmu Apa bisa kulalui semua dengan ikhlas dan berlapang dada Memang egois, tidak ingin hatimu terisi selain aku Ya, aku memang masih cacat dalam membahagiakanmu Belum bisa sempurna memenuhi semua inginmu Tapi mengapa ketika aku sedang berusaha kau malah Tak ingin kusebut pahit itu Pedih kuingat hari itu Semudah kau membalikkan telapak tangamu Seperti aku sudah benar - benar lenyap dari hidupmu Nyatanya hari ini Aku masih berdiri didepan pintu hatimu yang sengaja kau tutup Aku masih menunggu si Pemilik Hati membukakannya lagi untukku Aku masih mengajukan puluhan bahkan ribuan doa dan airmata untukmu Menurutmu seringan itukah melepaskan yang sudah terjadi Ini bukan jual beli yang bisa dengan mudahnya asal ada uang Hati yang sudah terluka parah dan bernanah masih harus disiram asam cuka Masih bi...

Aku menulismu...

Aku menulismu disini Dimana kamu tidak akan membacanya Aku menulismu disini Berharap ini tempatku teraman mencintaimu Aku menulismu disini Karena tidak akan ada yang tahu itu kamu Aku menulismu disini Karena terlalu besar rasa kehilanganku atasmu Aku menulismu disini Berharap kau kembali secepatnya dari gaduhnya dunia Aku menulismu disini Saat aku tahu kemarahanmu sangat besar atasku Aku menulismu disini Dengan harapku padaNya Aku menulismu disini Sampai penantianku atas kembalimu terjawab

Tempat persembunyian...

Hanya disini aku merasa aman Aman darimu yang masih kucinta, aman dari dunia yang membenci Tempat teraman dari semua kegaduhan hidup Dimana aku bisa sejenak tenang dan mengenang Aku membiarkan diriku mengenangmu Membiarkan amarahmu berkuasa dikepalaku Tak kurasa kelelahanku padamu karena hatiku lebih kuat Ya, dia menangisi kepergianmu sejadi - jadinya Ragaku meluruh memohon kembalimu Jiwaku meronta mengemis hatimu Hatiku ingin menarik hatimu kembali padaku Aku bisa apa, aku tak berdaya, mereka menguasaiku Kegundahanku tak sebanding dengan pergimu Ya, tulang - tulangku lemas sekarang Sgenap tubuhku menagih haknya Antara istirahat di tempat persembunyian Atau tidur damai dengan temaram cahaya di tempat peristirahatan

Aku pun lelah...

Jika kau tanya kemana saja aku selama ini Jika kau tanya apa saja yang kuperbuat selama ini Dan jika kau tanya apa yang ada di pikiranku sampai detik ini Aku cuma bisa menjawab bahwa aku berusaha duduk tenang dihatimu, menjaganya tetap pada tempatnya dan mencurahkan perhatianku untukmu Namun nyatanya... Ya, semua yang kulakukan salah Tak terampuni meski itu jalan untuk mempertahankan kita Terabaikan kemarahanmu yang membuncah karena keadaan Andai kau beritahu padaku cara mempertahankanmu secara detail Andai penatmu lebih terarah selayaknya orang dewasa Andai sedikit saja kau mau tahu apa yang kurasakan sepeninggalmu Sayangnya andai ku sudah terlambat Aku pun lelah... Menunggu keajaiban berharap siang dan malam padaNya Menyabarkan diri dan melapangkan dada dengan semua tentang kita Tapi nyatanya hatiku belum sebesar dan selapang itu Aku pun lelah meski begitu mencintaimu . . .

Tuhanku yang juga Tuhanmu...

Beranjak dari segala kemarahan dan ketidakadilan Berlalu tanpa ada sepatah kata yang melegakan Merasa pedih sendirian karena memang tak perlu dibagi Oh, Tuhan sebuah kesalahan kah jika mencintai terlalu dalam Pedih kata yang tepat untuk melukiskan semuanya Siapa pemilik kuasa pengatur ulang waktu Bolehkah memohon untuk memperbaiki semuanya Oh, Tuhan rasanya ingin mati saja membayangkan kengerian ini Siapa yang menjamin ketetapan hati manusia Tidak ada jaminan yang memilih pergi bisa saja kembali Betapa pedihnya menggenggam yang kosong Oh, Tuhan adakah doa-doaku tak sampai padaMu Dia juga menyembahMu, menaikkan doa-doanya padaMu Aku pun tak berhenti memohon padaMu agar semua harap terkabulkan Sepertinya doa kami bertolak belakang dan ini yang terjadi Nyatanya ketika Tuhanku yang juga Tuhanmu tidak menemukan kecocokan daam doa kita Inilah yang terjadi . . .

Larahati...

Menulis dalam benak semua yang sudah terlewati Terlampau rindu memandang semua yang berlalu Ya, kenangan muncul ketika segala hal mulai hilang Menunggu perlahan hilang lenyap dan tak berbekas Neraka besar untuk hati yang kecil Kiamat kecil untuk manusia yang lengah Andai masih bisa menyelamatkan diri dari semuanya Sayangnya terlambat, terjadi di depan mata sayu yang kelelahan Menanyakan keberadaan Tuhan ketika perih itu terlampau Menanyakan kepuasan mereka yang menari atas pedih ini Tubuh yang lelah, lidah yang kelu, nafas yang tercekat Andai kengerian malam itu bisa dihindari, andai Raga itu berdiri namun sudah tidak pada tempatnya Jiwa itu perlahan menguap meluapkan kepedihannya Hatinya menyelinap dalam perih, berharap ada keajaiban Sudah terlewat, berlalu Hilang . . .

Sudah berlalu...

Dua orang dewasa yang saling menatap Satu sisi dengan nanar, fisik yang lelah dan segenggam asa yang masih disimpan Sisi yang lain menatap penuh kebencian, amarah dan gumpalan dendam Ya, keadaan sudah jauh berbeda sekarang Teriakan, rintihan, amarah dan pekikan bersahutan Tak ada yang melerai, tak seorang pun Laki - laki yang berdiri di hadapannya bukan lagi sosok yang dicintainya Malam itu berubah menjadi neraka yang siap menghukumnya Wanita yang selalu optimis, menganggap hidup adalah ladangnya Wanita yang tak pernah lepas tersenyum menghadapi hidupnya Wanita yang berusaha tegar dan bersyukur atas apa yang selama ini ada di hidupnya Malam itu berubah menjadi pesakitan dengan pekikan lirih dan pedih Semua berubah Berlalu tersapu amarah, dendam, jiwa yang ingin bebas dan entah apa yang menunggu Bias lampu menambah ngeri neraka malam itu, seperti sudah tersetting olehNya Akhirnya gugur, menyerah pada nasib, mengembalikan lagi padaNya Malam yang penuh kengerian itu sud...

Harus sesakit ini...

Hujan kali ini terasa menusukku Ingin sekali menyakitiku sampai ke tulang rusuk Jatuhnya seperti tanpa basa - basi merasuk Ya, hujan kali ini diluar nalarku Jarak yang mungkin bagi sebagian orang dekat, tidak menurutku Sepertinya jalan itu memanjang atau lebih jauh dari biasanya Lama sekali sampai tulang - tulangku mulai protes karna bosan " Sebentar lagi " desahku lirih menahan banyak hal Apa yang kucari dengan jarak ketika sebenarnya tidak tertolong Apa yang kukejar bersama waktu ketika nyatanya tetap memilih pergi Apa yang kugenggam dalam harap ketika ujungnya kutatap dengan nanar Ya, hujan malam itu begitu ngeri Dia menggilasku dengan bulirnya tanpa ampun Meluruhkan semua asa yang tersisa untuknya dalam kengerian Harus sesakit ini aku menikmati hujan malam itu Haruskah. . .

Masih yang terbaik meski berlalu...

Apalagi yang bisa kuketik kali ini Terlalu banyak yang membuncah di dada Siap meledak untuk dicurahkan kepada dunia Ya, tentang kehilangan yang terbaik Apa masih bisa disebut yang terbaik jika hilang Apa boleh dibilang yang terindah ketika memilih pergi Apa ini maksud dari terbaik tak harus dimiliki Apa kenangan ini layak untuk diingat entah sampai kapan Lirih rindu ini kuteriakkan dalam hatiku Tak mampu kuungkap karena ada yang lain lebih berhak Karena ada yang lebih punya hak untuk menumbangkanku Ya, termiliki oleh yang terbaik lainnya Bolehkah aku jumawa karena pernah bersamanya Hebatkah aku karena pernah susah dan sedih berdua Kerenkah bisa melewati waktu - waktu itu meski gagal akhirnya Ya, aku gagal dengan yang terbaik meski itu pendapatku Pikirmu bagaimana perasaanku kehilangan kala itu Berapa purnama yang harus kulewati untuk melepasmu dengan lega Sebanyak apa bulir airmata yang jatuh untuk mengikhlaskanmu Batin yang seketika hampa sepeninggalmu, menurutm...

Tak berarti...

Jika senja tiba-tiba turun, itu karena dia sudah bersembunyi seharian Dia menampakkan wujudnya setelah mengalah dengan terik matahari Mengalah karena memang belum waktunya menunjukkan sendunya Bertahan dengan keadaan seperti itu berabad-abad bukan suatu yang mudah Bukan bersabar, dia hanya lebih tahu diri Dia tidak seindah cahaya hangat itu kala siang Sementara dia muncul pun ada yang menanti tenggelamnya untuk berganti Ya, dia kembali mundur dari panggung yang ia sukai Beringsut dengan hati yang lapang karena dia tahu diri Mengapa senja harus tahu diri sedang dia lebih mendamaikan daripada terik dan gelap itu Mengapa senja harus mengalah sedang dia tidak pernah sekalipun menyakiti siapapun Dan mengapa senja harus berlapang dada sedang mereka bahkan selalu punya waktu lebih lama untuk turun Mungkin Tuhan tidak adil padanya selama ini Atau Tuhan sengaja kejam memperlakukannya Tapi dia tidak pernah meronta meski muncul sekejap lalu hilang Lalu siapa senja itu Mengapa...